Beberapa tahun terakhir, negeri ini terus-menerus ditimpa musibah bencana alam yang sangat besar. Mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan, lumpur Sidoarjo, hingga gunung meletus. Di samping bencana-bencana besar yang sering disebut musibah alam ini, bencana lain pun telah banyak terjadi. Misalnya, kecelakaan, kebakaran, pengeboman, dan sebagainya.
Bencana alam yang secara berturut-turut terjadi ini telah mengakibatkan berbagai kerusakan dan kerugian, tidak hanya merenggut harta tetapi juga nyawa manusia. Ada yang bersedih karena kehilangan sanak keluarganya. Ada pula yang tersiksa dan menderita karena luka parah akibat musibah yang menimpanya. Bahkan banyak yang tertekan jiwa dan raganya hingga frustasi, lupa diri lalu bunuh diri.
Semua ini adalah akibat dari ulah manusia sendiri yang tidak pernah menyadarinya. Mereka kebanyakan menganggap bahwa musibah ini sekedar fenomena alam yang wajar terjadi karena bumi sudah semakin tua. Padahal, saat ini manusia telah banyak yang lalai dan semakin jauh dari kewajiban-kewajibannya sebagai makhluk Allah Swt.. Terlalu banyak nikmat Allah yang tak disyukuri oleh manusia dari alam yang telah diciptakan-Nya.
Memang manusia terlalu bodoh karena tidak bisa memelihara segala yang telah diberikan dan malah sebaliknya hanya bisa merusak saja. Faktanya, banyak hutan telah gundul akibat ditebang liar hingga terjadi banjir besar. Banyak tempat tambang yang telah dikeruk oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih dari itu, yang paling memprihatinkan sekarang ini banyak manusia yang telah melupakan perintah-perintah Allah dan secara terang-terangan lancang melanggar segala aturan-Nya.
Lihat saja negeri ini, peraturan-peraturan hidup telah dibuat sendiri. Para pejabat dan pemimpin tak sepenuhnya melindungi dan memenuhi hak rakyat, hingga mereka miskin dan melarat. Para lelaki tak banyak yang menjaga pergaulannya dengan perempuan. Para perempuan tak banyak lagi yang menutup auratnya dengan sempurna seperti dalam Alquran. Hampir setiap hari terjadi pembunuhan, perzinaan, korupsi, dan sebagainya.
Islam memandang bahwa bencana alam merupakan sunnatullah, tidak bisa dicegah tetapi bisa diantisipasi. Bencana alam tidak bisa dianggap sebagai gejala atau fenomena alam semata tetapi harus ada intropeksi diri dari manusia. Dari intropeksi diri dapat diketahui bahwa mungkin manusia sudah banyak yang tidak mensyukuri karunia Allah yang melimpah sehingga tidak heran kalau Allah menurunkan suatu teguran agar manusia kembali ke jalan-Nya.
Sebagaimana dalam Alquran dijelaskan bahwa setiap musibah atau bencana yang terjadi tak lain adalah azab dari Allah karena manusia sudah banyak yang berpaling dan tidak beriman kepada-Nya. Begitu banyak ayat-ayat yang menjelaskan bahwa jika manusia beriman maka bumi ini akan aman dari bencana dan murka Allah. Namun, manusia seolah tak mendengar dan tak menghiraukan seruan-Nya hingga Allah pun benar-benar menepati janji-Nya.
Oleh karena itu, sebagai bahan muhasabah bagi kita bahwa segala yang terjadi di bumi ini adalah karena kekuasaan Allah semata. Sebagai hamba Allah yang serba lemah dan terbatas seharusnya manusia tidak berani memancing murka-Nya dengan berbuat keji dan mungkar. Sudah saatnya manusia bersegera kembali kepada Allah, bertobat dan meminta ampun kepada-Nya. Inilah solusi terbaik agar terhindar dari segala musibah yang datang silih berganti, yakni dengan menerapkan syariah dan khilafah. Marilah bersama menyatukan tujuan untuk kembali menjalankan segala hukum-hukum dan perintah Allah secara kaffah. Wallahu’a’lam.
